aku dan karya ku

aku dan karya ku
omod

Kamis, 06 Mei 2010

seni pencak silat, gubernur cup II di bogor

SENI PENCAK SILAT
Ada sebuah kegiatan yang menarik yang berlangsung di GOR Pajajaran Kota Bogor, teryata di tempat yang merupakan pusat pengembangan olahraga Kota Bogor itu sedang berlangsung Kejuaran Daerah Silat Gubenur Jawa Barat Cup II, yang dilaksanakan pada 19-23 April 2010, acara yang dibuka pada hari Senin 19 April 2010 ini di ramaikan oleh beberapa pertunjukan kesenian diantaranya : rampak kendang, atraksi pesilat-pesilat cilik, atraksi pesilat luar negeri dan lain-lain. Bogor yang menjadi tuan rumah terlihat mempersiapkan acara ini dengan matang dengan dukungan dari salah satu koran lokal Kota Bogor yang tampak benar-benar menguasai kedudukan sponsor diacara ini, bila berbicara tentang silat rasanya di telinga masyarakat Bogor tidak terasa begitu asing, wajar saja di Bogor ada salah satu wilayah yang mahsyur dengan seni pencak silatnya yaitu daerah Cimande, tapi berdasarkan penelusuran penulis ternyata pencak silat Cimande adalah bagian dari perkembangan silat di Jawa Barat yang bermula dari daerah Cianjur, berdasarkan alirannya, beladiri pencak silat yang ada di Jawa Barat dibagi berdasarkan beberapa aliran, diantaranya Cimande, Cikalong, Syahbandar dan beberapa aliran lainnya lagi. Pencak silat Cimande untuk pertamakalinya disebarkan oleh Sakir penduduk Kecamatan Mande Kabupaten Cianjur. Sakir adalah salah seorang tokoh pencak silat, serta ilmu kebatinan Sakir dikenal berilmu tinggi karenanya Sakir sangat disegani masyarakat, penduduk setempat menganggap Sakir sebagai orang tua mereka sendiri. Sakir dibawa pindah oleh R. Aria Natanagara ke Bogor. Oleh Bupati Bogor Sakir diangkat menjadi pengawal Bupati. Selama Sakir mengabdi pada Bupati Bogor, beliau bertempat tinggal di Cimande (Kabupaten Cianjur). Karena itulah Pencak Silat yang diajarkan dan disebarkan oleh Sakir disebut Pencak Cimande. Mungkin itulah awal mula disebutnya pencak silat Cimandean, seperti di daerah Cimande Kabupaten Bogor yang terkenal dengan pencak silatnya mungkin nama Cimande ini diambil dari nama aliran silat yang dibawa oleh Sakir, tapi semua ini belum bisa menjadi bukti yang pasti karena penulis juga kekurangan reverensi tentang semua itu. Tapi terlepas dari semua itu memang Bogor memiliki akar tradisi yang kuat khusunya pencak silat, sebagai bukti Kabupaten Bogor menyabet lebih dari delapan medali putri dan putri dari berbagai kelas yang diperlombakan, yang menjadi ironi adalah kontingen Kota Bogor hanya bisa menyabet sekitar empat medali, padahal Kota Bogor bertindak sebagai tuan rumah.
Kegiatan yang dipersiapkan untuk Porda (Pekan olah raga daerah) Jabar XI 2010 di Bandung Juli nanti ini memang berlangsung begitu meriah namun ada saja kekurangan dari semua itu, di acara pembukaan dan penutupan tidak terlihat pejabat tinggi daerah yang seharusnya membuka atau menutup acara tersebut seperti Walikota Bogor dan Gubernur Jawa Barat yang tidak terlihat batang hidungnya, apakah ini bentuk dari tidak kepedulian mereka atau ada kegiatan lain di luar acara tersebut yang lebih penting. Tapi di luar itu semua sebauah penghargaan tetap harus diberikan kepada Kota hujan ini, karena masih mau memberikan ruang bagi para pendekar-pendekar silat Jawa Barat untuk terus berkarya, kegiatan ini pun dapat menjadi pendorong bagi terus berkembangnya peningkatan prestasi silat Indonesia yang bebrapa tahun ini sedang terpuruk, karena pesilat-pesilat Indonesia sekarang tidak bisa berbicara banyak di dunia internasional, pesilat Indonesia masih terkalahkan oleh pesilat negara tetangga seperti Thailand atau Vietnam padahal pelatih-pelatih negara tersebut berasal dari indonesia.
Pencak silat atau silat (berkelahi dengan menggunakan teknik pertahanan diri) ialah seni bela diri Asia yang berakar dari budaya Melayu. Seni bela diri ini secara luas dikenal di Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura tapi bisa pula ditemukan dalam berbagai variasi di berbagai negara sesuai dengan penyebaran suku Melayu, seperti di Filipina Selatan dan Thailand Selatan. Berkat peranan para pelatih asal Indonesia, saat ini Vietnam juga telah memiliki pesilat-pesilat yang tangguh.(Ad)

Senin, 12 April 2010

puisi mimpi tidur

Achmad dayari.7 februari 2008




Tidurlah dengan mimpi
Dan bermimpilah dalam tidur
Tapi jangan biarkan mimpi mu tertidur

puisi manusia tidur

Achmad Dayari, 23 Maret 2009



Manusia Tidur



Hai para manusia tidur
Selamat pagi
Masih juga belum di bangunkan matahari?
Hari ini indah
Jika kau tak bangun pagi
Kau akan tertinggal sore
Saat malam kau baru akan terjaga
Dan gelap telah tiba

Minggu, 04 April 2010

puisi-puisi

Achmad Dayari, 23 Maret 2009



Manusia Tidur



Hai para manusia tidur
Selamat pagi
Masih juga belum di bangunkan matahari?
Hari ini indah
Jika kau tak bangun pagi
Kau akan tertinggal sore
Saat malam kau baru akan terjaga
Dan gelap telah tiba

festival film pelajar Bogor

Pelajar Juga Bisa Bikin Film

“Sekarang bukan saatnya lagi orang-orang kaya yang bikin film tapi sekarang saatnya orang-orang kreatif yang bikin film” kalimat tersebut terlontar jelas dari mulut Dedi Mizwar pada acara Festival Film Pendek Pelajar Bogor di gedung Kemuning Gading Balaikota Bogor, Sabtu, 27 Maret 2010 acara ini terselenggara atas kerjasama KFB (komunitas film Bogor) dengan Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (FFTV IKJ). Acara yang sebenarnya dimulai pada tanggal 25 Maret yang diawali dengan acara diskusi film pendek oleh salah seorang dosen IKJ yaitu bapa Gatot, dan dilanjukan pada tanggal 27 Maret dengan acara diskusi film bersama pemeran Nagabonar yaitu Dedi Mizwar serta pemutaran film-film karya peserta yang pengumumam pemenangnya direncanakan diumumkan bersamaan dengan perayaan hari jadi kota Bogor yang ke 528. Acara yang diikuti oleh 12 peserta dari kota Bogor dan sekitarnya ini setidaknya sedikit memberi angin segar dunia perfilman Bogor. Khusunya para pecinta film pendek atau film independen. Seperti yang kita ketahui film-film yang selalu beredar di bioskop-bioskop kota Bogor , khusunya film Indonesia masih dikuasai oleh film-film bercerita tentang hantu-hantu yang berbau porno. Film-film Indonesia seperti ditinggalkan karya-karya terbaiknya, setelah berakhirya masa film-film seperti Laskar pelangi , Identitas atau Sang pemimpi, film indonesia terus dirasuki film-film hantu yang selalu menebar adegan porno. Ini adalah kegagalan besar dalam dunia film Indonesia, bayangkan saja bila film-film seperti Suster keramas, Dendam pocong mupeng dan yang lainnya, ditonton oleh adik-adik kita yang masih SD atau SMP maka akan rusaklah moral mereka, pemikiran mereka akan selalu dibayangi oleh adegan-adegan porno dalm film tersebut, maka jangan heran bila ada kasus pemerkosaan oleh anak-anak SD atau SMP, atau ada kasus seks bebas dibawah umur dan sebagainya. Hal ini merupakan titik tolak bagi para pembuat film untuk menghasilkan film yang berkualitas dan layak tonton. Memang karya seni dilahirkan untuk memberikan pengajaran kepada para penikmatnya namun bukan pengajaran yang salah tentunya. Munkin semangat dari memberikan pengajaran yang baik khusunya pada para pelajarlah yang mendasari KFB menyelanggarakan acara ini, suatu penghargaan yang tingi yang harusnya di berikan pemerintah kepada KFB khususnya dan kepada seniman umumnya yang terus berusaha membangkitkan dunia kesenian kota Bogor, bukan hanya memberikan penghargaan dengan mendatangi acara tersebut namun memberikan bantuan-bantuan lain seperti bantuan dana atau pembangunan tempat yang lebih nyaman untuk penyelanggaraan acara pemutaran film atau kesenian lain, setidaknya itu semua akan memberikan semangat berkarya kepada para seniman, seperti gedung bioskop yang ada di jalan Tajur Kota Bogor, dari pada terus meberikan tontonan yang merusak moral, lebih baik dibongkar dan digunakan untuk acara kesenian.(Ad)

Minggu, 28 Maret 2010

musik ritual nyayian bumi di Bogor

MUSIK RITUAL NYAYIAN BUMI

Itulah judul yang di usung oleh komitas Persada Etnika (Pernik), sebuah LSM Nirlaba yang bergerak di bidang seni budaya yang beranggotakan dosen seni dan guru seni budaya. Pada tanggal 4 maret kemarin Pernik mementaskan sebuah kolaborasi musik, tari dan teater dalam sebuah pementasan yang bertema masihkah anda peduli terhadap bumi ini, dalam bentuk kemasan memang pementasan ini terkesan sangat menarik, apalagi di isi oleh para pemain yang sebagian besar merupakan alumni jurusan tari dan musik STSI Bandung (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) yaitu : Syafrul Ulum, Neno Suhartini, dan Jamal Gentayangan, dan seorang alumni ISI Yogyakarta (Institut Seni Indonesia) yaitu Sriati Dwiyatmini, dan yang lain adalah penggiat seni di bogor seperti Dudi, Coim, sultan, suci dan bang Ade. Pementasan ini berisikan beberapa koreografer tari jawa, sunda dan dayak yang terkesan sederhana di tambah dengan alunan musik yang di dominasi oleh etnik dayak yang juga bisa disebut sederhana, pemaknaan dalam pementasanpun tidak terbaca begitu jelas, hal ini diperkuat dengan komentar yang dilontarkan oleh seorang dosen IKJ (Institut Kesenian Jakarta) yang menonton pagelaran tersebut beliau berpendapat sebaiknya para pemain dalam pementasan ini harus lebih banyak latiahan, muningkin salah satu peyebab kurang menariknya pementasan ini di karnakan komposisi tari dan musik yang monoton dan bila dilihat dari judul yang memaparkan bahwa ini merupakan konser musik rasanya tidak tepat karna ternyata pementasan lebih didominasi oleh gerak tari dari pada musik. Pementasan yang di gelar sekitar 30 menit ini dihadiri oleh banyak seniman bogor dan Pejabat kota bogor malah kepala Disbudpar juga terlihat hadir dalam pementasan ini.
Namun diluar semua itu merupakan satu kebanggan di tengah sepinya dunia kesenian kota bogor, komunitas Pernik memberikan sedikit warna berbeda di dunia kesenian kota bogor ini. pada dasarnya seni terus berkembang dan berubah hingga hasilnya sebuah karya seni selalu memiliki keragaman dalam bentuknya, di era modern ini seniman harus pintar menyesuaikan situasi dan kondisi sebagai bahan dari karya seninya, setidaknya itulah yang harus menjadi dasar dari Pernik untuk penciptaan karya seni selanjutnya, apalagi bila didukung oleh kaum birokrat, rasanya kesenian akan lebih berkembang, bukan hanya janji-janji untuk mendukung kesenian yang tidak pernah terealisasi, namun i tulah tantangan untuk para seniman untuk terus berkarya. (Ad)

pementasan drama basa sunda oleh teater CERMIN

Pementasan Drama Basa Sunda Oleh Tater Cermin SMAN 1 Cicurug Sukabumi

Pementasan Drama Bahasa Sunda oleh Teater Cermin SMAN 1 Cicurug Sukabumi dengan menyuguhkan Naskah “CUKANG” karya Dadan Sutisna dan Di sutradarai oleh Achmad Dayari, pementasan ini di pertunjukan 2 kali, pertama di pertunjukan di gedung SMAN 1 Cicurug sebagai gladi resik pada hari Jumat 19 Maret 2010, dan kedua pada FESTIVAL DRAMA BASA SUNDA XI Teater Sunda Kiwari di Gedung Kesenian Rumentang Siang Bandung, pada hari Sabtu, 20 Maret 2010.
Festival Drama Basa Sunda (FDBS) XI Teater Sunda Kiwari kembali digelar pada 2 s.d 23 Maret 2010 Di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Bandung. Perhelatan dua tahunan ini sudah memasuki penyelengaraan kesebelasnya atau sudah hampir 22 tahun digelar. Ini merupakan bentuk eksistensi Teater sunda kiwari sebagai panitia terhadap kesenian, khususnya teater. FDBS memang selalu menyedot perhatian khalyak ramai khususnya orang-orang yang berkecimpung di dunia seni peran, karna mungkin ini satu-satunya festival drama modren yang naskahnya semua mengunakan bahasa sunda, FDBS sering kali dipadati peserta, bisa dilihat di tahun 2008 pada FDBS X peserta mencapai 75 Grup, hal ini membuat MURI (musium rekor Indonesia) memberikan penghargaan kepada Teater Sunda Kiwari sebagai penyelenggara festival teater berpeserta terbanyak. Di tahun 2010 ini pada FDBS XI peserta kembali membeludak dengan jumlah peserta sebanyak 79 grup dari seluruh Jawa Barat dan ditambah dengan 1 peserta dari D.I Yogyakarta. Peserta FDBS berasal dari kalangan komunitas umum, Mahasiswa, pelajar SD, SMP, SMA, dan ada juga tunanetra, yang penilaian perlombaannya disetarakan. Seperti Teater Cermin SMAN 1 Cicurug Sukabumi yang juga mengikuti gelaran FDBS XI, Teater Cermin mementaskan Naskah ” Cukang” Karya Dadan Sutisna dan di Sutradarai oleh Achmad Dayari yang di garap denga apik memandukan musik gamelan dan juga sentuhan tari –tarian sunda, naskah yang menceritakan tentang kebingungan manusia ketika menghadapi kematian karna daerahnya tersapu oleh banjir besar dan kelompok manusia itu harus menyebrangi Cukang (jembatan) yang melintasi kawah panas, walupun jembatan itu belum tentu bisa menyelematkan mereka dari kematian.
Ini adalah kali kedua teater cermin mengikuti FDBS setelah tahun pertama yaitu pada tahun 2008 dengan mementaskan naskah “RORONGGO” karya Arma Junaedi , dan berhasil memperoleh Nominator 5 besar Musik terbaik dan Nominator 5 besar Actris terbaik. Suatu kebanggan hal yang dilakukan oleh para pelajar SMAN 1 Cicurug Sukabumi ini, karna dipesatnya kemajuan teknologi dan moderenisasi yang mengakibatkan minimnya minat para remaja untuk berkomunikasi dengan menggunakan bahasa sunda apalagi mengembangkan seni budaya sunda, teater cermin terus berusaha mengembangkan dan menjaga bahasa serta seni budaya sunda. Dengan salah satu caranya mengikuti FDBS ini.
Melihat antusias masyarakat terhadap FDBS rasanya merupakan kebanggan tersendiri, apalagi sebagai orang sunda memang patut berbangga, karna lewat FDBS sudah pasti seni budaya dan bahasa sunda senantiasa terjaga dan selalu berkembang, yang menjadi lebih menarik dari FDBS adalah pementasan para peserta yang selalu memukau, dan memperlihatkan tingkat kreativitas yang tinggi, walaupun FDBS didasari oleh naskah berbahasa sunda namun bentuk penyajiannya adalah adaptasi dari teater barat, sehingga memberikan efek yang memukau dan menarik,seperti naskah-naskah yang dipentaskan di FDBS yang merupakan hasil dari pasanggiri naskah (Festival mengarang naskah drama bahasa sunda) yang selalu dilaksanakan sebelum FDBS digelar seperti naskah yang dipentaskan tahun ini diantaranya :”Meredong” hasil saduran dari naskah “Ke” karya Yudistira ANM massardi saduran bebas loeh Rosyd E Abby, “Cukang” karya Dadan Sutisna, “Sadrah” , karya Artur S nalan, “kembang gadung” karya Dipa Galuh Purba, “Bandera, Bandera, Bandera”, dan “Genjlong karaton”. Dilihat dari naskanya dan pengarangnya sudah pasti naskah yang difestivalkan adalah naskah-naskah yang berbobot dan memiliki kesulitan tersendiri.

Mari Berteriak


ShoutMix chat widget