MUSIK RITUAL NYAYIAN BUMI
Itulah judul yang di usung oleh komitas Persada Etnika (Pernik), sebuah LSM Nirlaba yang bergerak di bidang seni budaya yang beranggotakan dosen seni dan guru seni budaya. Pada tanggal 4 maret kemarin Pernik mementaskan sebuah kolaborasi musik, tari dan teater dalam sebuah pementasan yang bertema masihkah anda peduli terhadap bumi ini, dalam bentuk kemasan memang pementasan ini terkesan sangat menarik, apalagi di isi oleh para pemain yang sebagian besar merupakan alumni jurusan tari dan musik STSI Bandung (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) yaitu : Syafrul Ulum, Neno Suhartini, dan Jamal Gentayangan, dan seorang alumni ISI Yogyakarta (Institut Seni Indonesia) yaitu Sriati Dwiyatmini, dan yang lain adalah penggiat seni di bogor seperti Dudi, Coim, sultan, suci dan bang Ade. Pementasan ini berisikan beberapa koreografer tari jawa, sunda dan dayak yang terkesan sederhana di tambah dengan alunan musik yang di dominasi oleh etnik dayak yang juga bisa disebut sederhana, pemaknaan dalam pementasanpun tidak terbaca begitu jelas, hal ini diperkuat dengan komentar yang dilontarkan oleh seorang dosen IKJ (Institut Kesenian Jakarta) yang menonton pagelaran tersebut beliau berpendapat sebaiknya para pemain dalam pementasan ini harus lebih banyak latiahan, muningkin salah satu peyebab kurang menariknya pementasan ini di karnakan komposisi tari dan musik yang monoton dan bila dilihat dari judul yang memaparkan bahwa ini merupakan konser musik rasanya tidak tepat karna ternyata pementasan lebih didominasi oleh gerak tari dari pada musik. Pementasan yang di gelar sekitar 30 menit ini dihadiri oleh banyak seniman bogor dan Pejabat kota bogor malah kepala Disbudpar juga terlihat hadir dalam pementasan ini.
Namun diluar semua itu merupakan satu kebanggan di tengah sepinya dunia kesenian kota bogor, komunitas Pernik memberikan sedikit warna berbeda di dunia kesenian kota bogor ini. pada dasarnya seni terus berkembang dan berubah hingga hasilnya sebuah karya seni selalu memiliki keragaman dalam bentuknya, di era modern ini seniman harus pintar menyesuaikan situasi dan kondisi sebagai bahan dari karya seninya, setidaknya itulah yang harus menjadi dasar dari Pernik untuk penciptaan karya seni selanjutnya, apalagi bila didukung oleh kaum birokrat, rasanya kesenian akan lebih berkembang, bukan hanya janji-janji untuk mendukung kesenian yang tidak pernah terealisasi, namun i tulah tantangan untuk para seniman untuk terus berkarya. (Ad)
inilah sebagian yang kucatat sebagian dari yang aku lihat, aku dengar dan aku rasakan namun sebagian lagi tetap aku bungkam
aku dan karya ku
omod
Minggu, 28 Maret 2010
pementasan drama basa sunda oleh teater CERMIN
Pementasan Drama Basa Sunda Oleh Tater Cermin SMAN 1 Cicurug Sukabumi
Pementasan Drama Bahasa Sunda oleh Teater Cermin SMAN 1 Cicurug Sukabumi dengan menyuguhkan Naskah “CUKANG” karya Dadan Sutisna dan Di sutradarai oleh Achmad Dayari, pementasan ini di pertunjukan 2 kali, pertama di pertunjukan di gedung SMAN 1 Cicurug sebagai gladi resik pada hari Jumat 19 Maret 2010, dan kedua pada FESTIVAL DRAMA BASA SUNDA XI Teater Sunda Kiwari di Gedung Kesenian Rumentang Siang Bandung, pada hari Sabtu, 20 Maret 2010.
Festival Drama Basa Sunda (FDBS) XI Teater Sunda Kiwari kembali digelar pada 2 s.d 23 Maret 2010 Di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Bandung. Perhelatan dua tahunan ini sudah memasuki penyelengaraan kesebelasnya atau sudah hampir 22 tahun digelar. Ini merupakan bentuk eksistensi Teater sunda kiwari sebagai panitia terhadap kesenian, khususnya teater. FDBS memang selalu menyedot perhatian khalyak ramai khususnya orang-orang yang berkecimpung di dunia seni peran, karna mungkin ini satu-satunya festival drama modren yang naskahnya semua mengunakan bahasa sunda, FDBS sering kali dipadati peserta, bisa dilihat di tahun 2008 pada FDBS X peserta mencapai 75 Grup, hal ini membuat MURI (musium rekor Indonesia) memberikan penghargaan kepada Teater Sunda Kiwari sebagai penyelenggara festival teater berpeserta terbanyak. Di tahun 2010 ini pada FDBS XI peserta kembali membeludak dengan jumlah peserta sebanyak 79 grup dari seluruh Jawa Barat dan ditambah dengan 1 peserta dari D.I Yogyakarta. Peserta FDBS berasal dari kalangan komunitas umum, Mahasiswa, pelajar SD, SMP, SMA, dan ada juga tunanetra, yang penilaian perlombaannya disetarakan. Seperti Teater Cermin SMAN 1 Cicurug Sukabumi yang juga mengikuti gelaran FDBS XI, Teater Cermin mementaskan Naskah ” Cukang” Karya Dadan Sutisna dan di Sutradarai oleh Achmad Dayari yang di garap denga apik memandukan musik gamelan dan juga sentuhan tari –tarian sunda, naskah yang menceritakan tentang kebingungan manusia ketika menghadapi kematian karna daerahnya tersapu oleh banjir besar dan kelompok manusia itu harus menyebrangi Cukang (jembatan) yang melintasi kawah panas, walupun jembatan itu belum tentu bisa menyelematkan mereka dari kematian.
Ini adalah kali kedua teater cermin mengikuti FDBS setelah tahun pertama yaitu pada tahun 2008 dengan mementaskan naskah “RORONGGO” karya Arma Junaedi , dan berhasil memperoleh Nominator 5 besar Musik terbaik dan Nominator 5 besar Actris terbaik. Suatu kebanggan hal yang dilakukan oleh para pelajar SMAN 1 Cicurug Sukabumi ini, karna dipesatnya kemajuan teknologi dan moderenisasi yang mengakibatkan minimnya minat para remaja untuk berkomunikasi dengan menggunakan bahasa sunda apalagi mengembangkan seni budaya sunda, teater cermin terus berusaha mengembangkan dan menjaga bahasa serta seni budaya sunda. Dengan salah satu caranya mengikuti FDBS ini.
Melihat antusias masyarakat terhadap FDBS rasanya merupakan kebanggan tersendiri, apalagi sebagai orang sunda memang patut berbangga, karna lewat FDBS sudah pasti seni budaya dan bahasa sunda senantiasa terjaga dan selalu berkembang, yang menjadi lebih menarik dari FDBS adalah pementasan para peserta yang selalu memukau, dan memperlihatkan tingkat kreativitas yang tinggi, walaupun FDBS didasari oleh naskah berbahasa sunda namun bentuk penyajiannya adalah adaptasi dari teater barat, sehingga memberikan efek yang memukau dan menarik,seperti naskah-naskah yang dipentaskan di FDBS yang merupakan hasil dari pasanggiri naskah (Festival mengarang naskah drama bahasa sunda) yang selalu dilaksanakan sebelum FDBS digelar seperti naskah yang dipentaskan tahun ini diantaranya :”Meredong” hasil saduran dari naskah “Ke” karya Yudistira ANM massardi saduran bebas loeh Rosyd E Abby, “Cukang” karya Dadan Sutisna, “Sadrah” , karya Artur S nalan, “kembang gadung” karya Dipa Galuh Purba, “Bandera, Bandera, Bandera”, dan “Genjlong karaton”. Dilihat dari naskanya dan pengarangnya sudah pasti naskah yang difestivalkan adalah naskah-naskah yang berbobot dan memiliki kesulitan tersendiri.
Pementasan Drama Bahasa Sunda oleh Teater Cermin SMAN 1 Cicurug Sukabumi dengan menyuguhkan Naskah “CUKANG” karya Dadan Sutisna dan Di sutradarai oleh Achmad Dayari, pementasan ini di pertunjukan 2 kali, pertama di pertunjukan di gedung SMAN 1 Cicurug sebagai gladi resik pada hari Jumat 19 Maret 2010, dan kedua pada FESTIVAL DRAMA BASA SUNDA XI Teater Sunda Kiwari di Gedung Kesenian Rumentang Siang Bandung, pada hari Sabtu, 20 Maret 2010.
Festival Drama Basa Sunda (FDBS) XI Teater Sunda Kiwari kembali digelar pada 2 s.d 23 Maret 2010 Di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Bandung. Perhelatan dua tahunan ini sudah memasuki penyelengaraan kesebelasnya atau sudah hampir 22 tahun digelar. Ini merupakan bentuk eksistensi Teater sunda kiwari sebagai panitia terhadap kesenian, khususnya teater. FDBS memang selalu menyedot perhatian khalyak ramai khususnya orang-orang yang berkecimpung di dunia seni peran, karna mungkin ini satu-satunya festival drama modren yang naskahnya semua mengunakan bahasa sunda, FDBS sering kali dipadati peserta, bisa dilihat di tahun 2008 pada FDBS X peserta mencapai 75 Grup, hal ini membuat MURI (musium rekor Indonesia) memberikan penghargaan kepada Teater Sunda Kiwari sebagai penyelenggara festival teater berpeserta terbanyak. Di tahun 2010 ini pada FDBS XI peserta kembali membeludak dengan jumlah peserta sebanyak 79 grup dari seluruh Jawa Barat dan ditambah dengan 1 peserta dari D.I Yogyakarta. Peserta FDBS berasal dari kalangan komunitas umum, Mahasiswa, pelajar SD, SMP, SMA, dan ada juga tunanetra, yang penilaian perlombaannya disetarakan. Seperti Teater Cermin SMAN 1 Cicurug Sukabumi yang juga mengikuti gelaran FDBS XI, Teater Cermin mementaskan Naskah ” Cukang” Karya Dadan Sutisna dan di Sutradarai oleh Achmad Dayari yang di garap denga apik memandukan musik gamelan dan juga sentuhan tari –tarian sunda, naskah yang menceritakan tentang kebingungan manusia ketika menghadapi kematian karna daerahnya tersapu oleh banjir besar dan kelompok manusia itu harus menyebrangi Cukang (jembatan) yang melintasi kawah panas, walupun jembatan itu belum tentu bisa menyelematkan mereka dari kematian.
Ini adalah kali kedua teater cermin mengikuti FDBS setelah tahun pertama yaitu pada tahun 2008 dengan mementaskan naskah “RORONGGO” karya Arma Junaedi , dan berhasil memperoleh Nominator 5 besar Musik terbaik dan Nominator 5 besar Actris terbaik. Suatu kebanggan hal yang dilakukan oleh para pelajar SMAN 1 Cicurug Sukabumi ini, karna dipesatnya kemajuan teknologi dan moderenisasi yang mengakibatkan minimnya minat para remaja untuk berkomunikasi dengan menggunakan bahasa sunda apalagi mengembangkan seni budaya sunda, teater cermin terus berusaha mengembangkan dan menjaga bahasa serta seni budaya sunda. Dengan salah satu caranya mengikuti FDBS ini.
Melihat antusias masyarakat terhadap FDBS rasanya merupakan kebanggan tersendiri, apalagi sebagai orang sunda memang patut berbangga, karna lewat FDBS sudah pasti seni budaya dan bahasa sunda senantiasa terjaga dan selalu berkembang, yang menjadi lebih menarik dari FDBS adalah pementasan para peserta yang selalu memukau, dan memperlihatkan tingkat kreativitas yang tinggi, walaupun FDBS didasari oleh naskah berbahasa sunda namun bentuk penyajiannya adalah adaptasi dari teater barat, sehingga memberikan efek yang memukau dan menarik,seperti naskah-naskah yang dipentaskan di FDBS yang merupakan hasil dari pasanggiri naskah (Festival mengarang naskah drama bahasa sunda) yang selalu dilaksanakan sebelum FDBS digelar seperti naskah yang dipentaskan tahun ini diantaranya :”Meredong” hasil saduran dari naskah “Ke” karya Yudistira ANM massardi saduran bebas loeh Rosyd E Abby, “Cukang” karya Dadan Sutisna, “Sadrah” , karya Artur S nalan, “kembang gadung” karya Dipa Galuh Purba, “Bandera, Bandera, Bandera”, dan “Genjlong karaton”. Dilihat dari naskanya dan pengarangnya sudah pasti naskah yang difestivalkan adalah naskah-naskah yang berbobot dan memiliki kesulitan tersendiri.
Kamis, 28 Januari 2010
puisi chairil anwar dalam bahasa sunda
AING
Lamun sakali mangsa
Kula teu hayang Manusa rek nyombo
Sanajan andika
Teu perlu ceurik bari lihan
Aing anjing jarian
Nu nyorangan taya nu mirosea
Kajen panah nanceb na iga
Aing moal reureuh Babaung bari narajang
Tatu Jeung peurah
Ku aing di gambol
Di gambol
Nepika sirna
Nyeresetna kapeurih
Jeung aing Teutep te paduli
Aing hayang keneh hirup
Saketi warsi deui
Acang/ imlek 2009
khairil anwar “aku” ,
Lamun sakali mangsa
Kula teu hayang Manusa rek nyombo
Sanajan andika
Teu perlu ceurik bari lihan
Aing anjing jarian
Nu nyorangan taya nu mirosea
Kajen panah nanceb na iga
Aing moal reureuh Babaung bari narajang
Tatu Jeung peurah
Ku aing di gambol
Di gambol
Nepika sirna
Nyeresetna kapeurih
Jeung aing Teutep te paduli
Aing hayang keneh hirup
Saketi warsi deui
Acang/ imlek 2009
khairil anwar “aku” ,
Kamis, 21 Januari 2010
Kamis, 14 Januari 2010
teater cermin berlatih untuk FDBS

"KAMI MASIH CINTA BAHASA SUNDA"
Kamis 7 Januari 2010
Ada yang sedikit berbeda disela latihan para anggota Teater cermin SMAN 1 Cicurug Sukabumi, karena hari ini mereka terlihat berlatih di Kebun Raya Bogor, tidak seperti biasanya mereka berlatih di area gedung Sekolah SMA Negeri 1 Cicurug Jalan Koramil Cicurug Sukabumi, mungkin tahapan latihan ini adalah sedikit modifikasi yang dilakukan pelatihnya yang mencoba menghilangkan kepenatan berlatih di sekolah sembari mengisi libur semester sekolah yang berlangsung selama dua minggu, tahapan yang dilakukan oleh teater cermin ini adalah bagian latihan untuk mengikuti Festival Drama Bahasa Sunda XI (FDBS) yang akan di selenggarakan di Gedung Kesenian Rumentang Siang Bandung, pada tanggal 23 Februari sampai 23 Maret 2010. Festival drama ini merupakan festival Drama tingkat Jawa barat atau mungkin Nasional Yang menampilkan Drama-drama berbahasa sunda, Hal yang dilakukan oleh sebagian remaja kreatif ini bisa sedikit membanggakan hati karena seperti yang kita ketahui penggunaan bahasa sunda dikalangan remaja sudah sangat menghawatirkan, penggunan bahasa sunda di masyarakat jawa barat khususnya kaum muda yaitu remaja kian berkurang, hal itu merupakan dampak dari moderenisasi, remaja saat ini lebih senang dan lebih bangga menggunakan bahasa Indonesia atau lebih tepatnya bahasa gaul, karna ejaan bahasa Indonesia yang di gunakannya-pun sudah simpang siur, seperti penggunaan kata "elu" atau gue" lebih sering terucap dari mulut para remaja sunda, mereka sudah terasa enggan menggunakan kata "anjeun" atau "abdi", karena orang yang menggunakan bahasa sunda dianggap kuno atau kampungan, hal itu terasa miris terdengar, hal ini bisa mengakibatkan kepunahan bahasa sunda dimasa yang akan datang,
"kami masih cinta bahasa sunda" ungkap gadis yang berperawakan kecil bernama Maria yang merupakan ketua dari teater cermin, ketika ditanya mengapa ia berminat mengikuti Festival Drama bahasa sunda ini. Dia juga berperan sebagai Demlon (seorang PSK) dalam naskah yang berjudul "Cukang" karya Dadan Sutisna, karena naskah inilah yang akan dipentaskan nanti di Bandung, semangat para anggota teater cermin ini perlu diacungi jempol. Saat berlatih secara tidak langsung mereka mempelajari bahasa sunda karna dalam dialog semua menggunakana bahasa sunda, di Festival yang diadakan dua tahun sekali ini Teater cermin sudah kali keduanya mengikuti festival ini, di tahun 2007 teater cermin adalah wakil satu-satunya dari Kabupaten Sukabumi yang mengikuti festival ini, dukungan dari sekolah dan keingiinan yang kuat dari pelatih serta para anggota teater cerminlah yang membuat semangat mereka tak pernah padam untuk mengikuti Festival Drama bahasa sunda ini, walaupun tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan pihak sekolah untuk megikuti gelaraan festival yang sempat masuk rekor muri di tahun 2008 untuk Festival drama berpeserta terbanyak dan pelaksanaan terlama. Dalam naskah "Cukang" yang menceritakan tentang kebingungan orang-orang nanti di padang mahsyar yang di gambarkan dengan situasi masa kini, akan berkolaborasi pula dengan seni tari dan musik gamelan (karawitan) yang keseluruhannya di permainkan oleh siswa siswi SMA Negeri 1 Cicurug, ini merupakan perwujudan bahwa sebagian dari para remaja sunda masih mencinta bahasa daerahnya dan kesenian daerahnya, hal ini tentunya harus diberikan dukungan oleh pemerintaha dan masyarakat agar semuanya terlaksana dengan baik, penggunaan bahasa sunda harus di tanamkan sejak dini oleh orang tua kepada anak-anaknya agar kelak anak-anak itu terbiasa mengunakan bahasa sunda, dan sekolah sebagai lembaga pendidikan haruslah ikut serta dalam pengembangan dan peningkatan bahasa serta kesenian sunda agar bahasa dan kesenian kebanggaan tanah parahyangan ini tidak punah.
Achmad Dayari
Mahasiswa jurusan bahasa dan sastra Indonesia
Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan
Universitas Pakuan Bogor
Bermukin di Cicurug Sukabumi
keindahan seni pertunjukan
Keindahan seni pertunjukan
Oleh : A. Dayari
Hentakan musik dangdut diiringi dengan goyangan panas para penyanyinya menghentak dinginnya malam, semua itu terllihat jelas dalam sebuah acara pernikahan di daerah pinggiran kota bogor, seperti biasa dalam acara pernikahan sering terlihat adanya panggung hiburan dangdut yang bisa sedikit mengurangi penat pikiran para penontonnya yang setiap hari disibukan dengan masalah-masalah kehidupan, terlihat indah memang bila kita bisa menonton hiburan tersebut dalam kacamata para penontonnya yang kebanyakan berprofesi sebagai supir angkot, tukang ojek atau buruh kasar, hiburan dangdut merupakan sebuah bentuk seni pertunjukan tapi apakah ini bisa disebut dengan keindahan seni pertunjukan? Pada dasarnya seni pertunjukan adalah kesenian yang di pertontonkan pada khalayak ramai sebagai penonton objeknya, namun kesenian panggung dangdut yang mengunbar aurat biduannya rasanya tidak tepat disebut sebagai salah satu bentuk keindahan seni pertunjukan, bila kita melihat keindahan ini dari segi estetik dan estetika atau juga pemaknaan pertunjukan tersebut, seni pertunjukan yang bisa berupa pertunjukan tari, musik dan teater, disetiap pertunjukannya memiliki segi keindahan dari penyajiannya baik itu konsep, cara penyajian atau pemaknaan dari pertunjukan itu sendiri, karna hal tersebutlah yang memberikan kesan berbeda pada seni pertunjukan.
Pertunjukan tari merak adalah perlambangan keindahan makhluk ciptaan tuhan berupa burung merak yang memang diberi anugrah oleh tuhan berupa keindahan bulu-bulunya, sehingga setiap penyajian pertunjukan tari merak terlihat sekali keanggunan para penarinya untuk menggambarkan keindahan burung merak, baik berupa kostum yang digunakan atau gerakan yang dipertunjukan penarinya, hingga pemaknaan bahwa kita harus selalu mensyukuri anugrah yang diberikan tuhan amat terasa ketika kita melihat pertunjukan tersebut. Dalam pertunjukan musik orkestra, sebagai penonton kita bisa merasakan keindahan dari harmoni musik yang begitu megah yang dilantukan para penyajinya, hiingga keindahan sebuah pertunjukan musik benar-benar terasa, tidak seperti musik-musik yang selalu kita lihat pada pagi hari di acara-acara televisi yang hanya mengandalkan wajah yang ganteng atau cantik, atau hanya mengandalkan warna musik yang semakin aneh, namun ada sedikit kebanggaan dalam perkembangan pertunjukan musik sekarang ini, masyarakat terasa memiliki rasa cinta terhadap produk bangsa sendiri, dapat dilihat di televisi Indonesia, sudah jarang sekali terlihat pemutaran video clip dari luar negri, video clip di televisi sudah di dominasi oleh video clip lokal.
Dalam pertunjukan teater, misal THE BOOR atau "ENGGAK SOPAN" karya Anton Chekov yang pernah dipertunjukan Teater Karoeng, terlihat terasa begitu indah, dari susunan dialog yang disajikan dengan baik oleh aktor-aktornya yang memadukannya dengan apik antara emosi dengan gesture tubuh dan ditambah lagi paduan musik, pencahayaan dan dekorasi yang mendukung pementasan teater tersebut, teater yang menurut Moulton adalah "hidup yang dilukiskan dengan gerak"(Life presented in action), dapat terlihat dalam pemaknaan dari pertunjukan ENGGAK SOPAN, pemaknaan yang berupa ternyata cinta bisa datang kapan saja atau pada siapa saja. Walupun digambarkan diatas pentas oleh seorang penagih hutang yang mencintai seorang wanita yang ditagihnya, yang sepertinya jarang kisah seperti itu dalam sinetron-sinetron yang sering tampak di televisi yang hanya menambah beban pikiran para ibu rumah tangga saja, apalagi pertunjukan teater disajikan secara visual diatas pentas, hingga benar-benar terasa keindahannya karena dapat dilihat langsung oleh mata pergerakan para pemainnya tanpa dihalangi layar kaca,
Keindahan-keindahan seperti itulah yang sebaiknya hadir dalam setiap seni pertunjukan. Bukan berarti mengeyampingkan bentuk keindahan lain yang dianut oleh sebagian penikmat kesenian, namun bila dalam sebuah seni pertunjukan terdapat bentuk penyajian yang baik dan terkonsep, serta pemaknaan yang bermamfaat, hingga bisa memberikan pendidikan atau pengajaran kepada penikmatnya, sepertinya seni pertunjukan akan lebih digemari dan disukai. Unsur pengajaran tentang kehidupan yang sekarang diperlukan dalam seni pertunjukan, tanpa mengurangi bentuk penyajian dan konsep seni pertunjukan yang berkembang sekarang ini, agar seni pertunjukan itu memiliki bentuk yang berbeda dan terus berkembang, Keindahan seni pertunjukan adalah sesuatu yang muncul dari bentuk, makna, dan cara penyajian pertunjukan itu sendiri yang dapat menghasilkan rasa kagum terhadap karya pertunjukan tersebut.
Oleh : A. Dayari
Hentakan musik dangdut diiringi dengan goyangan panas para penyanyinya menghentak dinginnya malam, semua itu terllihat jelas dalam sebuah acara pernikahan di daerah pinggiran kota bogor, seperti biasa dalam acara pernikahan sering terlihat adanya panggung hiburan dangdut yang bisa sedikit mengurangi penat pikiran para penontonnya yang setiap hari disibukan dengan masalah-masalah kehidupan, terlihat indah memang bila kita bisa menonton hiburan tersebut dalam kacamata para penontonnya yang kebanyakan berprofesi sebagai supir angkot, tukang ojek atau buruh kasar, hiburan dangdut merupakan sebuah bentuk seni pertunjukan tapi apakah ini bisa disebut dengan keindahan seni pertunjukan? Pada dasarnya seni pertunjukan adalah kesenian yang di pertontonkan pada khalayak ramai sebagai penonton objeknya, namun kesenian panggung dangdut yang mengunbar aurat biduannya rasanya tidak tepat disebut sebagai salah satu bentuk keindahan seni pertunjukan, bila kita melihat keindahan ini dari segi estetik dan estetika atau juga pemaknaan pertunjukan tersebut, seni pertunjukan yang bisa berupa pertunjukan tari, musik dan teater, disetiap pertunjukannya memiliki segi keindahan dari penyajiannya baik itu konsep, cara penyajian atau pemaknaan dari pertunjukan itu sendiri, karna hal tersebutlah yang memberikan kesan berbeda pada seni pertunjukan.
Pertunjukan tari merak adalah perlambangan keindahan makhluk ciptaan tuhan berupa burung merak yang memang diberi anugrah oleh tuhan berupa keindahan bulu-bulunya, sehingga setiap penyajian pertunjukan tari merak terlihat sekali keanggunan para penarinya untuk menggambarkan keindahan burung merak, baik berupa kostum yang digunakan atau gerakan yang dipertunjukan penarinya, hingga pemaknaan bahwa kita harus selalu mensyukuri anugrah yang diberikan tuhan amat terasa ketika kita melihat pertunjukan tersebut. Dalam pertunjukan musik orkestra, sebagai penonton kita bisa merasakan keindahan dari harmoni musik yang begitu megah yang dilantukan para penyajinya, hiingga keindahan sebuah pertunjukan musik benar-benar terasa, tidak seperti musik-musik yang selalu kita lihat pada pagi hari di acara-acara televisi yang hanya mengandalkan wajah yang ganteng atau cantik, atau hanya mengandalkan warna musik yang semakin aneh, namun ada sedikit kebanggaan dalam perkembangan pertunjukan musik sekarang ini, masyarakat terasa memiliki rasa cinta terhadap produk bangsa sendiri, dapat dilihat di televisi Indonesia, sudah jarang sekali terlihat pemutaran video clip dari luar negri, video clip di televisi sudah di dominasi oleh video clip lokal.
Dalam pertunjukan teater, misal THE BOOR atau "ENGGAK SOPAN" karya Anton Chekov yang pernah dipertunjukan Teater Karoeng, terlihat terasa begitu indah, dari susunan dialog yang disajikan dengan baik oleh aktor-aktornya yang memadukannya dengan apik antara emosi dengan gesture tubuh dan ditambah lagi paduan musik, pencahayaan dan dekorasi yang mendukung pementasan teater tersebut, teater yang menurut Moulton adalah "hidup yang dilukiskan dengan gerak"(Life presented in action), dapat terlihat dalam pemaknaan dari pertunjukan ENGGAK SOPAN, pemaknaan yang berupa ternyata cinta bisa datang kapan saja atau pada siapa saja. Walupun digambarkan diatas pentas oleh seorang penagih hutang yang mencintai seorang wanita yang ditagihnya, yang sepertinya jarang kisah seperti itu dalam sinetron-sinetron yang sering tampak di televisi yang hanya menambah beban pikiran para ibu rumah tangga saja, apalagi pertunjukan teater disajikan secara visual diatas pentas, hingga benar-benar terasa keindahannya karena dapat dilihat langsung oleh mata pergerakan para pemainnya tanpa dihalangi layar kaca,
Keindahan-keindahan seperti itulah yang sebaiknya hadir dalam setiap seni pertunjukan. Bukan berarti mengeyampingkan bentuk keindahan lain yang dianut oleh sebagian penikmat kesenian, namun bila dalam sebuah seni pertunjukan terdapat bentuk penyajian yang baik dan terkonsep, serta pemaknaan yang bermamfaat, hingga bisa memberikan pendidikan atau pengajaran kepada penikmatnya, sepertinya seni pertunjukan akan lebih digemari dan disukai. Unsur pengajaran tentang kehidupan yang sekarang diperlukan dalam seni pertunjukan, tanpa mengurangi bentuk penyajian dan konsep seni pertunjukan yang berkembang sekarang ini, agar seni pertunjukan itu memiliki bentuk yang berbeda dan terus berkembang, Keindahan seni pertunjukan adalah sesuatu yang muncul dari bentuk, makna, dan cara penyajian pertunjukan itu sendiri yang dapat menghasilkan rasa kagum terhadap karya pertunjukan tersebut.
Selasa, 12 Januari 2010
Langganan:
Postingan (Atom)